TAS KERANJANG

Seperti biasa, minggu ini Nita dan Hendi pergi mengikuti sekolah minggu. Kebetulan pembimbing sekolah minggu sedang ada kepentingan pribadi sehingga acara sekolah minggu agak dipersingkat. Nita dan Hendi pun mampir ke rumah nenek yang rumahnya tak jauh dari gereja sekedar untuk bermain-main saja.

“Selamat siang Nek!”, sapa mereka

“Selamat siang. Kok kalian sudah pulang ?”

“Iya Nek. Pembimbingnya sedang ada perlu, jadi kami dipulangkan lebih cepat.”, jawab Nita.

 

“Oh, begitu. Baiklah! Kalau kalian mau minum, ambil sendiri di meja makan ya. Di sana juga ada makanan kecil, ambil dan makanlah. Nenek jalannya susah”

 

“Baik Nek”

Setelah mereka minum dan mengambil makanan kecil, kembalilah mereka ke teras.

Sambil mengunyah, Hendi iseng-iseng bertanya kepada nenek,”Nek. Tadi nenek bilang jalannya udah susah kan ya? Tapi kok kalau aku perhatikan, tiap minggu nenek masih bisa jalan ke gereja. Memangnya ga capek ya?

 

“Hmm.. Jalannya memang susah dan capek. Tapi nenek selalu usahakan datang ke gereja untuk ikut misa.”

 

“Wah, semangat sekali nenek. Kalau begitu aku mau tanya. Minggu kemarin bacaannya apa hayo? Trus khotbahnya romo apa ?”

 

“Hmmm.. Nenek sudah tidak ingat, bacaannya apa, khotbahnya apa. Nenek sudah pelupa.”

 

“Yah, Nenek. Kalau ga ada yang diingat dari gereja, ngapain nenek capek-capek datang ke sana tiap minggu? Mending kan di rumah ya Nek.”

 

Nenek terdiam mendengar pertanyaan itu. Ia lalu berjalan perlahan menuju ruang tengah untuk mengambil sebuah keranjang.

Baca selanjutnya…

Kategori:Renungan Tag:, , , , , ,

Soegija The Movie

Sedari awal memang saya pengen nonton film ini. Namun seminggu sebelum penayangan perdana (7 Juni 2012) baru dapat info dari web nya soegijathemovie.com kalau film ini tidak tayang di Cikarang. Jueedheeer!!! itu artinya kalau mau nonton harus ke blok M dulu yg paling mudah akesnya. Dan itu berarti kesempatan untuk nonton di hari perdana hilang karena tanggal 7 adalah hari kerja. Duh nasib-nasib…

Tetapi ternyata kesempatan nonton hari perdana muncul lagi. Saat ngintip cineplex Cikarang di hari H, muncul lah judul film ini di studio 3. Jam tayang yg memungkinkan adalah 17.30 dan 19.45. Oke deh, pulang kerja langsung ke TKP untuk nonton yang jam 17.30 soalnya sempat agak worry jg sih tentang tiket, takutnya ga kebagian, gara-gara ada yang bilang udah sold out. Syukurlah nyampe di sana masih kebagian tiket. Mungkin banyak orang yg lebih milih jam 19.45 biar ga buru-buru banget di jalan. Dan itu terbukti, untuk jam 19.45 tiket sold out. Salah seorang teman akhirnya memilih nonton film lain karena ga kebagian tiket.

Kira-kira begini film “Soegija” itu.

Film ini diawali dengan seting tahun 1940, jaman penjajahan Belanda hingga tahun 1950. Pengenalan tokoh-tokoh disampaikan dalam durasi yang cukup lama. Pria berjubah putih (Soegija) yang naik sepeda ontel menuju pastoran melalui jalan kecil pedesaan sungguh menggambarkan suasana saat itu. Bandingkan kalo romo jaman sekarang, mana ada yang naik sepeda ontel (sejauh yg saya tahu). Soegija yang ditampilkan sebagai pemuka agama sedang memberikan khotbah dalam misa di pekarangan rumah penduduk ingin memperkenalkan bahwa Soegija adalah seorang imam Katholik.

Meski begitu, film ini tidak bermaksud menonjolkan ke-Katholik-an atau mendorong orang yg menonton untuk menjadi Katholik. Kemanusiaan lah yang diangkat oleh Garin Nugroho dalam film yang kabarnya menghabiskan dana 12 M ini.

Suasana penjajahan sangat terasa, meskipun tidak digambarkan dalam dengan adegan berdarah-darah yang mengerikan. Dikisahkan, karena perang itulah banyak orang menjadi terpisah dengan orang-orang terdekatnya. Mariyem, (bukan Maria) yang biasa mengantar makanan ke pastoran harus berpisah dengan Maryono yang ikut berjuang bersama pemuda-pemuda yang lain. Meski sebenarnya tidak mengijinkan, Mariyem tidak bisa melarang Maryono ikut berperang. Selama ditinggalkan, selalu ada kerinduan yang begitu dalam yang digambarkan dalam diri gadis yang ingin berhasil menjadi perawat itu. Ling Ling yang keturunan Tionghoa harus berpisah dengan ibunya yang ditangkap tentara Jepang sementara ia ditinggalkan di rumahnya. Si ibu menjerit dan meronta namun tak berdaya dengan todongan senjata para tentara. Yang tersisa hanyalah tangisan Ling Ling yang selalu mengingat kapan mamanya bisa kembali. Ia pun tak mengijinkan seorangpun mengambil kotak musiknya, bahkan dengan todongan pistol sekalipun karena ia tahu, dengan kotak musik itulah ia akan dapat berdansa lagi jika ia bertemu lagi dengan mamanya kelak.

Baca selanjutnya…

Prevnar : Pfizer bets ?

November 15, 2011 3 komentar

Pfizer (PFE)) melalui cholesterol lowering medicine Lipitor berhasil menjadi pemain besar industri farmasi global, bahkan Lipitor menjadi best selling drug secara global . Baca selanjutnya di http://lorentz.netii.net/wp/

Switching Rx to OTC

November 8, 2011 Tinggalkan komentar

Switching ethical (Rx) to Over The Counter (OTC).  Lihat selengkapnya di http://lorentz.netii.net/wp

Kategori:Pharmaceutical

Brooklyn Bridge – a never say die attitude

brooklyn bridgeTahukah Anda jembatan Brooklyn? Jembatan yang membentang di atas East River (sebenarnya bagian dari samudra Atlantik), menghubungkan City of Manhattan dan New York. Pembangunan jembatan Brooklyn tidak terjadi begitu saja, namun melalui serangkaian peristiwa yang menurut saya sangat inspiratif.

Pada tahun 1865, John Augustus Roebling, arsitek kreatif dengan imaginasi yang tinggi, merancang jembatan Brooklyn. Suatu ide yang bisa dibilang “gila” karena saat itu belum pernah ada jembatan seperti yang ia gambarkan.
Banyak para ahli, dan bahkan dunia menolak idenya, dan menyuruhnya melupakan rencana yang tidak masuk akal itu. Satu-satunya orang yang mau mendukung idenya adalah anaknya sendiri, Washington Roebling.

Baca selanjutnya…

Inspirasi Albert Einstein

einsteinKita semua pasti mengenal Albert Einstein. Ilmuwan fisika teoretis, dan dipandang sebagai ilmuwan terbesar dalam abad ke-20.
Beliau memberikan banyak sumbangan dalam pengembangan bidang mekanika kuantum, mekanika statistik, dan kosmologi.

Berikut beberapa kutipan inspirasi dari beliau :
Baca selanjutnya…

Kategori:Motivasi

Portable Audio Player

April 8, 2010 3 komentar

XMPlayHampir semua orang yang mengoperasikan komputer suka mendengarkan musik dari komputer yang digunakan.
Adalah Winamp, aplikasi pemutar audio yang sudah tidak asing lagi bagi para pengguna komputer. Tampilannya user friendly memudahkan kita untuk menjalankan aplikasi ini.
Semenjak pertama kali saya bisa mengoperasikan komputer, Winamp hampir selalu hadir dalam setiap komputer yang pernah saya lihat. Hal itu bisa dimaklumi, Winamp populer karena kualitasnya yang hebat sebagai audio player.
Namun, untuk dapat menggunakan aplikasi Winamp, kita harus menginstal aplikasi ini pada komputer yang digunakan. Lalu bagaimana kalau komputer yang kita pakai tidak diperkenankan untuk diinstal aplikasi tambahan seperti Winamp ini ?
Baca selanjutnya…

Kategori:Tips komputer