Beranda > Renungan > TAS KERANJANG

TAS KERANJANG

Seperti biasa, minggu ini Nita dan Hendi pergi mengikuti sekolah minggu. Kebetulan pembimbing sekolah minggu sedang ada kepentingan pribadi sehingga acara sekolah minggu agak dipersingkat. Nita dan Hendi pun mampir ke rumah nenek yang rumahnya tak jauh dari gereja sekedar untuk bermain-main saja.

“Selamat siang Nek!”, sapa mereka

“Selamat siang. Kok kalian sudah pulang ?”

“Iya Nek. Pembimbingnya sedang ada perlu, jadi kami dipulangkan lebih cepat.”, jawab Nita.

 

“Oh, begitu. Baiklah! Kalau kalian mau minum, ambil sendiri di meja makan ya. Di sana juga ada makanan kecil, ambil dan makanlah. Nenek jalannya susah”

 

“Baik Nek”

Setelah mereka minum dan mengambil makanan kecil, kembalilah mereka ke teras.

Sambil mengunyah, Hendi iseng-iseng bertanya kepada nenek,”Nek. Tadi nenek bilang jalannya udah susah kan ya? Tapi kok kalau aku perhatikan, tiap minggu nenek masih bisa jalan ke gereja. Memangnya ga capek ya?

 

“Hmm.. Jalannya memang susah dan capek. Tapi nenek selalu usahakan datang ke gereja untuk ikut misa.”

 

“Wah, semangat sekali nenek. Kalau begitu aku mau tanya. Minggu kemarin bacaannya apa hayo? Trus khotbahnya romo apa ?”

 

“Hmmm.. Nenek sudah tidak ingat, bacaannya apa, khotbahnya apa. Nenek sudah pelupa.”

 

“Yah, Nenek. Kalau ga ada yang diingat dari gereja, ngapain nenek capek-capek datang ke sana tiap minggu? Mending kan di rumah ya Nek.”

 

Nenek terdiam mendengar pertanyaan itu. Ia lalu berjalan perlahan menuju ruang tengah untuk mengambil sebuah keranjang.


 

“Ini! Aku bawakan tas keranjang untuk kalian. Aku minta kalian membawa air dari kolam yang ada di halaman depan itu, lalu menaruhnya di ember ini dengan menggunakan tas keranjang”

 

“Hah?? Nenek bercanda ya!! Mana bisa ngangkut air pakai tas keranjang ?”

“Lakukanlah dulu!”

 

Maka Nita dan Hendi segera menuju ke kolam, mengisi tas keranjang, dan berlari menuju ember. Namun, sebelum sampai lima langkah, tas keranjang sudah kosong tanpa air. Mereka terus mencoba berkali-kali melakukannya namun tas keranjang itu tetap kosong. Setelah capek, merekapun menyerah dan segera menghadap nenek.

 

“Tuh kan, Nenek bisa lihat sendiri. Tas keranjang mana bisa untuk ngangkut air!”

 

Nenek tersenyum, lalu katanya,”Kemarilah dan bawa tas keranjang itu”

Dengan malas Hendi membawa tas keranjang yang basah itu dan menyerahkannya kepada Nenek.

 

“Tas keranjang ini memang tidak bisa memindahkan air apalagi menjadi wadah untuk menyimpan air. Tetapi coba perhatikanlah! Tas keranjang itu sekarang menjadi lebih bersih daripada sebelumnya.

Begitu juga kalau kita pergi ke gereja. Kita tidak selalu mengingat bacaannya, khotbahnya, dll, tetapi kita selalu mendapatkan hal-hal yang baik, hanya seringkali kita tidak menyadarinya”.

Kategori:Renungan Tag:, , , , , ,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: