Arsip

Posts Tagged ‘Indonesia’

Soegija The Movie

Sedari awal memang saya pengen nonton film ini. Namun seminggu sebelum penayangan perdana (7 Juni 2012) baru dapat info dari web nya soegijathemovie.com kalau film ini tidak tayang di Cikarang. Jueedheeer!!! itu artinya kalau mau nonton harus ke blok M dulu yg paling mudah akesnya. Dan itu berarti kesempatan untuk nonton di hari perdana hilang karena tanggal 7 adalah hari kerja. Duh nasib-nasib…

Tetapi ternyata kesempatan nonton hari perdana muncul lagi. Saat ngintip cineplex Cikarang di hari H, muncul lah judul film ini di studio 3. Jam tayang yg memungkinkan adalah 17.30 dan 19.45. Oke deh, pulang kerja langsung ke TKP untuk nonton yang jam 17.30 soalnya sempat agak worry jg sih tentang tiket, takutnya ga kebagian, gara-gara ada yang bilang udah sold out. Syukurlah nyampe di sana masih kebagian tiket. Mungkin banyak orang yg lebih milih jam 19.45 biar ga buru-buru banget di jalan. Dan itu terbukti, untuk jam 19.45 tiket sold out. Salah seorang teman akhirnya memilih nonton film lain karena ga kebagian tiket.

Kira-kira begini film “Soegija” itu.

Film ini diawali dengan seting tahun 1940, jaman penjajahan Belanda hingga tahun 1950. Pengenalan tokoh-tokoh disampaikan dalam durasi yang cukup lama. Pria berjubah putih (Soegija) yang naik sepeda ontel menuju pastoran melalui jalan kecil pedesaan sungguh menggambarkan suasana saat itu. Bandingkan kalo romo jaman sekarang, mana ada yang naik sepeda ontel (sejauh yg saya tahu). Soegija yang ditampilkan sebagai pemuka agama sedang memberikan khotbah dalam misa di pekarangan rumah penduduk ingin memperkenalkan bahwa Soegija adalah seorang imam Katholik.

Meski begitu, film ini tidak bermaksud menonjolkan ke-Katholik-an atau mendorong orang yg menonton untuk menjadi Katholik. Kemanusiaan lah yang diangkat oleh Garin Nugroho dalam film yang kabarnya menghabiskan dana 12 M ini.

Suasana penjajahan sangat terasa, meskipun tidak digambarkan dalam dengan adegan berdarah-darah yang mengerikan. Dikisahkan, karena perang itulah banyak orang menjadi terpisah dengan orang-orang terdekatnya. Mariyem, (bukan Maria) yang biasa mengantar makanan ke pastoran harus berpisah dengan Maryono yang ikut berjuang bersama pemuda-pemuda yang lain. Meski sebenarnya tidak mengijinkan, Mariyem tidak bisa melarang Maryono ikut berperang. Selama ditinggalkan, selalu ada kerinduan yang begitu dalam yang digambarkan dalam diri gadis yang ingin berhasil menjadi perawat itu. Ling Ling yang keturunan Tionghoa harus berpisah dengan ibunya yang ditangkap tentara Jepang sementara ia ditinggalkan di rumahnya. Si ibu menjerit dan meronta namun tak berdaya dengan todongan senjata para tentara. Yang tersisa hanyalah tangisan Ling Ling yang selalu mengingat kapan mamanya bisa kembali. Ia pun tak mengijinkan seorangpun mengambil kotak musiknya, bahkan dengan todongan pistol sekalipun karena ia tahu, dengan kotak musik itulah ia akan dapat berdansa lagi jika ia bertemu lagi dengan mamanya kelak.

Baca selanjutnya…